Selasa, 12 Januari 2021

Fatwa Ulama Tentang Mimpi Allah Swt | Syaikh Muqbil Hadi Wadi'iy


Syaikh Muqbil bin Hady Al-Wadi’iy rahimahullah tatkala ditanya dalam sejumlah pertanyaan dari Indonesia, diantaranya :

“Apakah seorang mukmin melihat Rabbnya dalam tidur, dengan dalil ? Dan apakah tsabit dari sebagian Salaf bahwa mereka melihat Rabbnya atau tidak ?”

Beliau menjawab: “Tidak ada yang melarang, dan telah datang dalam hadits Mu’adz, hadis ‘Abdurrahman bin ‘A’isy dan Ibnu ‘Abbas, dan sebagian (ulama) berkata bahwa ia (hadis-hadis ini) bisa naik ke derajat dapat dipakai berhujjah. Datang di dalamnya bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam melihat Rabbnya. Dan Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsirnya ketika beliau menafsirkan firman Allah ‘Azza wa Jalla :

“Aku tiada mempunyai ilmu sedikitpun tentang Al-Mala’ul A’la (malaikat) itu ketika mereka berbantah-bantahan”. (QS. Shod : 69)

Karena beliau menyebutkan hadis di situ, beliau berkata : “Ini adalah mimpi dalam tidur”.

Dan saya tidak mengetahui ada dalil yang melarang hal ini yaitu bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam melihat Rabbnya dalam tidur. Dan demikian dinukil dari Imam Ahmad dan dari selain beliau dari ulama Salaf bahwa mereka melihat Allah dalam mimpi. Tapi kalau seorang manusia melihat Rabbnya dan membawa sesuatu yang menyelisihi syariat Islam yang ada maka tidak diterima, karena orang yang melihat-Nya mungkin melihat-Nya secara hakiki dan (mungkin) adalah was-was diri sendiri sebagaimana telah datang (dalam hadis,-pent.) bahwa mimpi terbagi tiga ; mimpi dari Allah, mimpi dari setan dan bisikan diri.
Ditambah lagi bahwa orang yang tidur tidak bisa berfikir sehingga diterima apa yang ia lihat dalam tidurnya”. 
[Tuhfatul Mujib pertanyaan no. 68.]

Semoga penjelasan singkat ini di pahami dan bermanfaat buat kita semua

Fatwa Ulama Tentang Mimpi Allah Swt | Syaikh muhammad bin Sholih Al-Utsaimin

Syaikh Muhammad bin Sholih AI-’Utsaimin rahimahullah ditanya sebagai berikut :

“Tentang melihat Allah ‘Azza wa Jalla, apakah benar perkataan bahwa mungkin (hal tersebut) terjadi pada mukmin mana saja dari kaum mukminin?”

Beliau menjawab:

“Melihat Allah dalam mimpi di dunia tentunya, karena di akhirat tidak ada tidur. Telah datang dalam hadist tentang perdebatan Malaikat yang dikeluarkan oleh Ahlus Sunan sesungguhnya Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam melihat Rabbnya dalam tidur. Dan melihat Allah bagi selain Nabi, saya tidak mengetahui tsabitnya (tetapnya/ syahnya) dan saya tidak tahu apakah terjadi atau tidak. Akan tetapi telah disebutkan bahwa Imam Ahmad rahimahullah melihat Rabbnya dalam tidur dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa manusia kadang melihat Rabbnya dalam tidur dan hal tersebut karena Allah Subhanahu wa Ta’ala membuat untuknya (orang yang mimpi) perumpamaan sesuai dengan komitmennya terhadap agamanya, yaitu ia melihat-Nya dalam mimpi yang baik sehingga hal tersebut menjadi pendukung baginya untuk komitmen terhadap agama. Wallahu A’lam“. 
[ Al-Liqo Al-Maftuh 30/17 pertanyaan no. 908 dengan perantara Syaikh Muhammad bin Ahmad Al-Fify.]

Semoga penjelasan singkat ini di pahami dan bermanfaat buat kita semua

Fatwa Ulama Tentang Mimpi Allah Swt | Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Fatwa ulama tentang mimpi allah swt.
Dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menerangkan : 
"Apabila demikian, maka seorang manusia kadang melihat Rabbnya dalam mimpi dan berbicara kepada-Nya. Ini adalah Haqq dalam mimpi tetapi tidak boleh ia berkeyakinan dalam dirinya bahwa Allah adalah seperti yang ia lihat dalam mimpi, karena sesungguhnya seluruh yang dilihatnya dalam mimpi tidak harus sama. Akan tetapi shurah (bentuk) yang ia lihat harus ada kesesuaian dan kemiripan dengan keyakinannya tentang Rabbnya. Kalau keimanan dan keyakinannya cocok, maka didatangkan kepadanya dari shurah itu dan ia mendengar dari kalam yang mencocoki tersebut. Kalau tidak, maka yang terjadi adalah kebalikannya. 
Berkata sebagian Masya'ikh (syaikh-syaikh) : 'Apabila seorang hamba melihat Rabbnya dalam suatu shurah maka shurah itu adalah tirai antara dia dan Allah'. Dan masih selalu ada dari kalangan orang-orang sholih dan selainnya yang melihat Rabb mereka dalam mimpi dan berbicara kepada-Nya. Dan saya tidak menyangka ada orang berakal yang mengingkari hal tersebut karena adanya hal ini merupakan perkara yang tidak mungkin ditolak sebab mimpi yang terjadi pada seorang bukanlah karena kehendak dan pilihannya. Dan ini adalah masalah yang sudah dipahami.

Telah disebutkan oleh para Ulama dari Ashhab (orang-orang hanbaliyah,-pent.) dan selainnya dalam Ushulud Diin (pokok-pokok agama). Mereka hikayatkan dari sekelompok kaum dari kalangan mu'tazilah dan selainnya tentang pengingkaran mereka terhadap melihat Allah, padahal penukilan tentang hal tersebut adalah mutawatir dari orang-orang yang melihat Rabbnya dalam tidur, kemudian barangkali mereka berkata : Tidak boleh dia meyakini bahwa ia melihat Rabbnya dalam tidur'. Maka mereka (kalangan mu'tazilah) telah menjadikan yang semisal ini termasuk mimpi-mimpi kosong dan berbuat ekstrim dalam meniadakan (menafikannya), yaitu menafikan melihat Allah dalam mimpi dari sebagian ru'yah (mimpi) yang benar sebagaimana segala yang dilihat dalam tidur. Ini termasuk pendapat Al-Mutajahmah (orang-orang Jahmiyah) yang batil (salah) yang menyelisihi kesepakatan para Salafus Ummah (orang-orang Salaf terdahulu dari umat) dan para imamnya. bahkan (menyelisihi) kesepakatan orang-orang yang berakal dari anak Adam. Bukanlah dengan melihat Allah dalam mimpi berarti terdapat suatu kekurangan atau aib yang berkaitan dengan-Nya Subhanahu wa Ta'ala. Hal tersebut hanyalah sesuai dengan keadaan orang yang melihat, yaitu kekuatan imannya, rusak dan istiqomah keadaannya serta penyimpangannya.
Selesai ucapan beliau dari Bayan Talbis Al-Jahmiyah 1/73.

Beliau juga berkata: "Dan kadang seorang mukmin melihat Rabbnya dalam mimpi dalam shurah (bentuk) yang beraneka ragam sesuai dengan ukuran keimanan dan keyakinannya. Bilamana imannya benar maka dia tidak akan melihatnya selain dalam shurah (bentuk) yang baik, dan apabila pada imannya ada kekurangan maka ia akan melihat sesuai dengan keimanannya. Dan melihat dalam mimpi memiliki hukum lain yang berbeda dengan melihat secara hakiki (nyata) dalam keadaan terjaga. la (melihat dalam mimpi) mempunyai ta'bir dan takwil, karena yang terkandung di dalamnya berupa perumpamaan-perumpamaan yang dibuat untuk perkara-perkara yang hakiki (nyata)". 
[ Majmu' Al-Fatawa 3/ 390, Minhajus Sunnah 5/384 dan Dar'ut Ta'arudh 5/237 ]

Semoga penjelasan singkat ini di pahami dan bermanfaat buat kita semua

Senin, 11 Januari 2021

Ibnu Sirin | Tafsir Mimpi Bertemu Allah swt

Pembahasan kali ini adalah Ibnu sirin tentang tafsir mimpi bertemu Allah SWT.

 Ibnu sirin menerangkan :

1. Jika seseorang bermimpi seolah-olah Allah berada di samping seseorang tersebut, maka memberi pesan bahwa Allah sedang melihatnya langsung. Jika orang tersebut orang salih maka mimpi itu adalah mimpi pembawa rahmat. Namun jika orang tersebut tidak salih maka mimpi itu bisa jadi menjadi peringatan baginya agar hidup lebih baik.

2. Jika seseorang bermimpi dan bertemu dengan Allah dalam keadaan di selamatkan oleh-Nya, maka ia akan menjadi orang yang banyak dicintai dan disukai oleh manusia di dunia. Orang-orang akan menyukainya.

3. Jika seseorang bermimpi di mana dalam mimpinya seolah-olah Allah berbicara langsung dengannya maka berarti agama yang dianutnya benar dan ia akan diberikan amanah sebagai seorang pemimpin di dunia. Amanah itu perlu dijalankan dengan pertimbangan aturan Allah yang adil dan maslahat.

4. Jika seseorang bermimpi namun dalam mimpinya itu ia seolah-olah melihat Allah dengan menggunakan hatinya, maka ia akan dimuliakan oleh Allah, diampuni dosa-dosanya, dan kelak di hari kiamat akan mendapatkan semua itu.

5. Jika seseorang bermimpi bertemu dengan Allah dan Allah menjanjikan padanya ampunan maka janjinya itu benar. Ia akan menjadi hamba yang dosa-dosanya diampuni dan kelak akan di ganjar surga ketika di akhirat.
[Tafsir Al-Ahlam]

Semoga penjelasan singkat ini di pahami dan bermanfaat buat kita semua

Kisah Imam Az Ghazali Mimpi Bertemu Allah Swt

Aku dapat melihat Allah dalam mimpi. 
Dia berkata kepadaku, " wahai Abu Hamid, tinggalkanlah segala kesibukanmu. Bergaullah dengan orang-orang yang telah Aku jadikan tempat untuk pandangan-Ku di bumi-Ku. Mereka adalah orang-orang yang menggadaikan dunia dan akhirat karena mencintai Aku. " 

Aku berkata : "Demi kemuliaan-Mu, aku tidak akan melakukannya kecuali Engkau membuatku dapat merasakan sejuknya berbaik sangka kepada mereka." 

Allah berfirman, "Sungguh Aku telah melakukannya. Yang memutuskan hubungan antara engkau dan mereka adalah kesibukanmu mencintai dunia. Maka keluarlah dari kesibukanmu mencintai dunia dengan suka rela sebelum engkau keluar dari dunia dengan penuh kehinaan. Aku telah melimpahkan kepadamu cahaya-cahaya dari sisi-Ku Yang suci.

Kisah Imam Hasan Al Basri Mimpi Bertemu Allah Swt

Imam Hasan al-Basri berjumpa dengan Habib Ajmi. Pada waktu shalat, Hasan al-Basri mempersilahkan Habib Ajmi untuk menjadi imam. Tidak disangka banyak bacaan habib yang keliru tajwidnya. Akhirnya Imam Hasan al-Basri “mufaraqah”, shalat sendiri.

Malam harinya Imam Hasan al-Basri bermimpi.
Allah menegurnya, “Hasan, jika saja engkau berdiri di belakang Habib Ajmi dan menunaikan shalatmu, niscaya kamu akan memperoleh keridhaanku, dan shalatmu akan memberi manfaat yang jauh lebih besar dari seluruh shalat dalam hidupmu. Kamu mencoba mencari kesalahan dalam bacaan shalatnya, tetapi kamu tidak melihat keikhlasan, kemurnian, dan kesucian hatinya. Ketahuilah, Aku lebih menyukai hati yang tulus daripada tajwid yang sempurna”.

Minggu, 10 Januari 2021

Kisah Iman Tirmidzi Mimpi berjumpa dengan allah swt

Imam Tirmidzi mengatakan.

Aku bermimpi bertemu Allah al-Haq Jalla Jalaaluh berkali-kali. 
Disalah satu mimpiku Aku bertanya, ya, Allah. Aku takut hilangnya keimanan ini. 
Lalu Dia (Allah) memerintahkanku membaca doa ini antara waktu sunnah subuh dan fardhunya 41 kali, yakni: 
Dzat yang maha hidup. 
Dzat yang tidak bergantung pada Makhluk-Nya. 
Dzat yang menciptakan langit dan bumi. 
Dzat yang agung dan mulia. 
Ya, Allah. Tiada Tuhan selain Engkau. Kupinta padaMu, agar Kau hidupkan hatiku dengan cahaya-cahaya makrifat-Mu. 
Ya Allah. Ya Allah. Ya arhamar-
raahimin.
[Bughyatul Mustarsyidinnya Sayyid Abdurrahman Ba'alawi Hal 60 al-Hidayah]


Kamis, 07 Januari 2021

Kisah Imam Ahmad Bermimpi Bertemu Allah Swt

Imam Ahmad bin Hambal dahulunya disiksa dengan kejam karena hanya mengatakan "Qur'an tidak diciptakan." 
Pada saat itu khalifah Al Mu'tasim berpendapat bahwa Qur'an diciptakan. 

Pada suatu hari Imam Ahmad sebagai tahanan berkata : 'Dia kemudian dibawa ke penjara dan orang-orang pergi, jadi saya pergi bersama mereka. Kemudian ketika hari berikutnya tiba orang-orang datang (ke pintu al Mu'tasim ) jadi saya datang bersama mereka dan berdiri di depan kursi.

Kemudian al- Mu'tasim muncul dan duduk di kursi dan berkata :'Bawa Ahmad bin Hambal . " 

Imam Ahmad dibawa dan ketika dia berdiri di depannya.

al- Mu'tasim berkata kepadanya, “Bagaimana keadaanmu di selmu pada malam itu, wahai putra Hambal ?”. 

Imam Ahmad berkata, “Dalam kebaikan dan semua pujian adalah bagi Allah.”. 

Al- Mu'tasim berkata, “wahai, Ahmad, saya melihat mimpi kemarin. “ 

Iman ahmad berkata, “Dan apa yang Anda lihat, wahai Amirul mu’minin ?”. 

Al mu'tasim berkata,” Saya melihat dalam mimpi saya seolah-olah ada dua singa mendekati saya dan mereka ingin mencabik-cabik saya. 
Dan kemudian dua malaikat muncul dan mengusir mereka dari saya. Mereka memberi saya kail dan berkata kepada saya, “Ini yang ditulis (potongannya) ada dalam mimpi Ahmad bin Hambal di selnya. “
Jadi apa yang kau lihat, Wahai putra Hambal.?' 

Jadi Ahmad bin hambal menghadap al- Mu'tasim dan berkata : "Wahai, Amirul mu’minin adakah buku bersamamu?" 

Al mu'tasim berkata : ” Ya, dan ketika aku terbangun, aku membaca apa yang ada di dalamnya”. 

Jadi Ahmad bin Hambal berkata kepadanya, "Wahai Amirul mu’minin, saya melihat seolah-olah Hari Kiamat telah ditetapkan, dan seolah-olah Allah telah mengumpulkan manusia yang pertama dan yang terakhir dalam satu dataran dan Dia memanggil mereka untuk bertanggung jawab. 

Sementara saya berdiri, saya dipanggil, jadi saya berjalan sampai saya berdiri di hadapan Allah, Yang Mahakuasa dan Agung

Dan Dia berkata kepada saya, “Wahai Ahmad, karena apa yang Anda dihukum? “. 

Saya berkata : “Karena al-Qur'an.” 

Dia (Allah) berkata : “Dan apakah Al Qur'an itu?” 

Saya berkata : “Kata-kata Anda, Wahai Allah, milik Anda .” 

Dia (Allah) berkata : ”Dari mana kamu (turunkan dan) katakan ini? ' 

Saya berkata, "Ya Tuhan, Abdur-Razzaq meriwayatkan kepada saya". 

Jadi, Abdur Razzaq dipanggil dan dia dibawa, sampai dia dibuat untuk berdiri di depan Allah, Yang Maha kuasa dan Agung

Dan Dia (Allah) berkata kepadanya : “Apa yang kamu katakan tentang Al Qur'an, Wahai Abdur Razzaq ?”

Dia (Abdur Razzaq) berkata, “Kata - kata Anda , Wahai Allah, milik Anda”. 

Kemudian Allah berkata, ”Dari mana Anda (menurunkan dan) mengatakan ini?” 

Dia (Abdur Razzaq) berkata, “ Ma'mar meriwayatkan kepadaku.” 

Jadi Ma'mar dipanggil dan dia dibawa, sampai dia dibuat untuk berdiri di depan Allah, Yang Maha kuasa dan Agung

Dan Dia (Allah) berkata kepadanya : “Apa yang kamu katakan tentang Alquran, Wahai Ma'mar ? “ 

Dia (ma'mar)  berkata : “ Kata - kata Anda , Wahai Allah, milik Anda,”. 

Lalu Allah berkata,” Dari mana kamu (menurunkan dan) mengatakan ini? “ 

Dia (ma'mar) berkata, “ Az Zuhri meriwayatkan kepadaku”. 

Jadi Az Zuhri dipanggil dan dia dibawa , sampai dia dibuat untuk berdiri di depan Allah, Yang Mahakuasa dan Agung

Dan Dia (Allah ) berkata kepadanya, “Apa yang kamu katakan tentang Al Qur'an, Wahai Zuhri ? “ 

Dia (az-zuhri) berkata, “Kata - kata Anda , Wahai Allah, milik Anda, 

Maka Allah berkata,” Dari mana Anda (menurunkan dan) mengatakan ini? “

Dia (az-zuhri) berkata : " Urwah meriwayatkannya kepadaku."

Jadi Urwah dibawa, 

Dan Dia (Allah) berkata kepadanya : ”Apa yang kamu katakan tentang Al Qur'an? “ 

Dia (Urwah) berkata, “Kata-kata Anda, Wahai Allah, milik Anda”. 

Allah berfirman ”Wahai Urwah , dari mana Anda (menurunkan dan) mengatakan ini?” 

Dia (Urwah) berkata : "Aa'ishah, putri Abu Bakar as-Siddiq, meriwayatkan kepadaku." 

Jadi Aa'ishah dipanggil dan dia dibawa, sampai dia dibuat untuk berdiri di depan Allah, Yang Maha Perkasa dan Agung, 

Dan Dia (Allah) berkata kepadanya : ”Apa yang kamu katakan tentang Al Qur'an,Wahai Aa 'ishah ?” 

Dia (Aa'ishah) berkata : “Kata - kata Anda , Wahai Allah, milik Anda.

Lalu Allah berfirman : ”Dari mana kamu (menurunkan dan) mengatakan ini? “

Dia (Aa'ishah) berkata : “Nabi Anda Muhammad Saw meriwayatkan kepada saya.

Jadi Muhammad Saw dipanggil dan dia dibawa, sampai dia dibuat untuk berdiri di depan Allah, Yang Perkasa dan Agung

Dan Dia (Allah) berkata kepadanya : “Apa yang kamu katakan tentang Al-Qur'an, Wahai Muhammad? “ 

Dia (nabi Muhammad Saw) berkata, “Kata-kata Anda, Wahai Allah, milik Anda.

Lalu Allah berfirman “ Darimanakah ini datang kepadamu? “ 

Jadi Nabi Muhammad Saw berkata : “Jibril meriwayatkan kepadaku.

Jadi Jibril dipanggil dan dia dibawa, sampai dia dibuat untuk berdiri di hadapan Allah, Yang Mahakuasa dan Agung 

Dan Dia berkata kepadanya, “Apa yang kamu katakan tentang Al Qur'an, Wahai Jibril ?” 

Dia (Jibril) berkata : ”Kata-kata Anda,Wahai Allah, milik Anda.

Lalu Allah berkata : “Dari mana memiliki ini datang kepada Kamu? 

Dia (Jibril) mengatakan, “Seperti yang Israfil ceritakan kepada saya.

Jadi Israfil dipanggil dan dia dibawa, sampai dia dibuat untuk berdiri di depan Allah, Yang Maha Perkasa dan Agung, 

Dan Allah, Yang Maha Suci, berkata kepadanya : “Apa yang kamu katakan tentang Al-Qur'an, Wahai Israfil ?.

Dia (Israfil) berkata : 'Kata-kata Anda, Wahai Allah, milik Anda.

Lalu Allah berkata : Dari manakah ini datang kepadamu?.

Dia (Israfil) berkata : “Saya melihat itu di Lawhul-Mahfudh.

Jadi Lawhul-Mahfudh dibawa dan berdiri di hadapan Allah, Yang Mahakuasa dan Agung

Dan Dia berkata : Wahai Lawhul-Mahfudh , apa yang kau katakan tentang Al Qur'an?” 

Dan dia (lawhul-mahfudh) berkata, “Kata-kata Anda,Wahai Allah, milik Anda.

Kemudian Allah, Yang Mulia berkata : “Dari manakah ini datang kepadamu?” 

Dan Lawhul-Mahfudh berkata : “Seperti yang dituliskan Qalam (Pena) pada saya. 

Kemudian Qalam dibawa sampai berdiri di depan Allah, Yang Maha Perkasa dan Agung.

sehingga Allah, Yang Maha Perkasa dan Agung berkata kepadanya : ”Hai Qalam, apa yang kamu katakan tentang Al Qur'an?” 

Qalam berkata : “Kata-kata Anda, Wahai Allah, milik Anda.”

Maka Allah berfirman :”Darimanakah ini datang kepadamu?” 

Qalam berkata : “Anda mendidikte dan saya menulis.” 

Kemudian Allah, Yang Perkasa dan Luar Biasa, berkata : ”Qalam telah mengatakan kebenaran. 
Lawhul-Mahfudh telah mengatakan yang sebenarnya. 
Israfil telah mengatakan yang sebenarnya. 
Jibril telah mengatakan yang sebenarnya. 
Muhammad telah mengatakan yang sebenarnya. 
'A'isyah telah mengatakan yang sebenarnya.
Urwah telah mengatakan yang sebenarnya. 
Az-Zuhri telah mengatakan yang sebenarnya. 
Ma'mar telah mengatakan yang sebenarnya. 
Abdur-Razzaq telah mengatakan yang sebenarnya. 
Ahmad bin Hambal telah mengatakan yang sebenarnya. 
Al Qur'an adalah Kata-kata saya, itu tidak diciptakan“.

Sulaiman as- Sijzi berkata, “Al- Mu'tasim melompat setelah mendengar itu dan berkata : ”Kamu telah mengatakan kebenaran, wahai putra Hambal.

Kemudian al- Mu'tasim bertobat, memerintahkan leher Bishr al-Marisi dan Bin Abi Duwaad dipenggal dan memberikan kehormatan kepada Ahmad bin Hambal, tetapi (Ahmad) menahan diri dari itu. Dia kemudian diperintahkan untuk dibawa pulang ke rumahnya dan telah dipulangkan

•ke dua
Imam Ahmad ibn hambal berjumpa dengan Allah Swt melalui mimpi sebanyak 99 kali. 
Sampai beliau bersumpah, “Jika aku melihat-Nya lagi untuk yang ke 100 kali, aku akan bertanya pada-Nya, apa hal yang dilakukan oleh para muqarrabin untuk mendekatkan diri kepada-Nya.”

Dan Imam Ahmad akhirnya bermimpi untuk yang ke 100 kalinya. 
Sesuai sumpahnya.
Imam Ahmad bertanya kepada Allah : 'Wahai Tuhanku! Amalan apa yang paling cepat mengantarkan para muqorrobin memperoleh kedekatan dengan-Mu ?'

Allah SWT menjawab :“Dengan membaca kalam-Ku.”

Imam Ahmad bertanya lagi : dengan memahami maknanya atau dengan tanpa memahami maknanya.?

Allah SWT menjawab : dengan memahami maknanya ataupun tidak
[ Hasiyyah Al-Baijuri 'Ala Jauharah At-Tauhid, Muktashar Minhajul Qashidin : hlm 51, Matjarur-Rabih : hlm. 535 hadits nomor 1106. ]

Pada saat imam Ahmad di tanya bagaimana dia melihatnya.
Imam Ahmad menjawab: “Penglihatan mataku berbalik ke dalam mata batinku, lantas seluruh tubuhku menjadi indera penglihatan. 
Maka aku melihat dia Yang Tiada Duanya.”

Semoga kisah ini di pahami dan bermanfaat buat kita semua.

Kisah Nabi Muhammad Saw Melihat Allah Swt Melalui Mimpinya

Kisah ini ada di dalam sebuah hadits.

Sebagaimana riwayat dari Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu berkata:

احْتُبِسَ عَنَّا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ غَدَاةٍ عَنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ حَتَّى كِدْنَا نَتَرَاءَى عَيْنَ الشَّمْسِ فَخَرَجَ سَرِيعًا فَثُوِّبَ بِالصَّلَاةِ فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَجَوَّزَ فِي صَلَاتِهِ فَلَمَّا سَلَّمَ دَعَا بِصَوْتِهِ فَقَالَ لَنَا عَلَى مَصَافِّكُمْ كَمَا أَنْتُمْ ثُمَّ انْفَتَلَ إِلَيْنَا ثُمَّ قَالَ أَمَا إِنِّي سَأُحَدِّثُكُمْ مَا حَبَسَنِي عَنْكُمْ الْغَدَاةَ أَنِّي قُمْتُ مِنْ اللَّيْلِ فَتَوَضَّأْتُ وَصَلَّيْتُ مَا قُدِّرَ لِي فَنَعَسْتُ فِي صَلَاتِي فَاسْتَثْقَلْتُ فَإِذَا أَنَا بِرَبِّي تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي أَحْسَنِ صُورَةٍ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ قُلْتُ لَبَّيْكَ رَبِّ قَالَ فِيمَ يَخْتَصِمُ الْمَلَأُ الْأَعْلَى قُلْتُ لَا أَدْرِي رَبِّ قَالَهَا ثَلَاثًا قَالَ فَرَأَيْتُهُ وَضَعَ كَفَّهُ بَيْنَ كَتِفَيَّ حَتَّى وَجَدْتُ بَرْدَ أَنَامِلِهِ بَيْنَ ثَدْيَيَّ فَتَجَلَّى لِي كُلُّ شَيْءٍ وَعَرَفْتُ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ قُلْتُ لَبَّيْكَ رَبِّ قَالَ فِيمَ يَخْتَصِمُ الْمَلَأُ الْأَعْلَى قُلْتُ فِي الْكَفَّارَاتِ قَالَ مَا هُنَّ قُلْتُ مَشْيُ الْأَقْدَامِ إِلَى الْجَمَاعَاتِ وَالْجُلُوسُ فِي الْمَسَاجِدِ بَعْدَ الصَّلَوَاتِ وَإِسْبَاغُ الْوُضُوءِ فِي الْمَكْرُوهَاتِ قَالَ ثُمَّ فِيمَ قُلْتُ إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَلِينُ الْكَلَامِ وَالصَّلَاةُ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ قَالَ سَلْ قُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ وَأَنْ تَغْفِرَ لِي وَتَرْحَمَنِي وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةَ قَوْمٍ فَتَوَفَّنِي غَيْرَ مَفْتُونٍ أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهَا حَقٌّ فَادْرُسُوهَا ثُمَّ تَعَلَّمُوهَا

 "Pada suatu pagi, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam tertahan dari kami untuk shalat Subuh hingga hampir saja kami melihat matahari, beliau keluar dengan cepat lalu shalat diiqamati, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam shalat dan mempercepatnya, saat salam beliau memanggil dengan suara keras, beliau bersabda pada kami: "Tetaplah di shaf-shaf kalian seperti ini." Setelah itu beliau menghadap kami lalu bersabda "Ingat, sesungguhnya aku akan memberitahukan kepada kalian apa yang menahanku dari kalian pagi ini. Di sebagian malam aku bangun lalu wudhu dan shalat semampuku, saat shalat aku mengantuk hingga tertidur. Tiba-tiba aku berada dihadapan Rabbku Tabaraka wa Ta'ala dalam wujud yang paling indah lalu bertanya: Hai Muhammad, ' aku menjawab: Baik, Rabb. Ia bertanya: 'Tahukah kamu apa yang diperdebatkan malaikat tertinggi? ' Beliau menjawab: Rabb aku tidak tahu.' Ia mengucapkan tiga kali, aku melihatNya lalu Ia meletakkan tanganNya di atas pundakku hingga aku merasakan dinginnya ujung-ujung jariNya diantara dadaku lalu segala sesuatu terlihat jelas olehku dan aku mengetahui. Ia bertanya: 'Hai Muhammad, ' aku menjawab: Baik, Rabb. Ia bertanya: 'Tahukah kamu apa yang diperdebatkan malaikat tertinggi? ' Aku menjawab: Tentang Penebus (dosa). Ia bertanya: Apa itu? Aku menjawab: Melangkahkan kaki menuju (shalat) jamaah, duduk dimasjid setelah shalat, menyempurnakan wudhu pada saat tidak disukai, ' lalu Ia berfirman seperti yang aku ucapkan: Memberi makan, melunakkan kata-kata, shalat di malam hari saat orang-orang tidur.' Ia berfirman: Mintalah, ucapkan: ALLAHUMMA INNI AS`ALUKA FI'LAL KHAIRAAT WA TARKAL MUNKARAAT WA HUBBAL MASAAKIIN WA AN TAGHFIRALII WA TARHAMNII WA IDZA ARADTA BI IBAADIKA FITNATAN FAQBIDLNI ILAKA GHARA MAFTUUN AS`ALUKA HUBBAKA WA HUBBA MAN YUHIBBUKA WA HUBBA AMALIN YUQARRIBU ILA HUBBIKA.' (Ya Allah, sesungguhnya aku meminta-Mu berbuat kebaikan, meninggalkan kemungkaran, mencintai orang-orang miskin, ampunilah aku dan rahmatilah aku, bila Engkau menghendaki suatu fitnah pada hamba-hambaMu, wafatkan aku kepadaMu dalam keadaan tidak terkena fitnah, aku mengharap cintaMu, cintanya orang yang mencintaiMu, cinta pada amalan yang mendekatkanku pada cintaMu). Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Sesungguhnya itu benar, pelajarilah, " mereka mempelajarinya. Abu Isa berkata: Hadits ini hasan shahih. Aku bertanya kepada Muhammad bin Isma'il tentang hadits ini, ia menjawab: Hadits ini hasan shahih. Abu Isa berkata: Ini lebih shahih dari hadits Al Walid ibn Muslim dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir. Abu Isa berkata: Telah menceritakan kepada kami Khalid bin Al Lajlaj telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Ayisy Al Hadlrami berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam, ia menyebut hadits ini dan hadits ini tidak terjaga. Seperti itu Al Walid menyebut dalam haditsnya dari Abdurrahman bin Ayisy, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam. Bisyr bin Bakr meriwayatkan dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir hadits ini dengan sanad ini dari Abdurrahman bin Ayisy dari nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam dan hadits ini lebih shahih. Abdurrahman bin Ayisy tidak mendengar dari nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam.
(Shahih Tirmidzi : 3159)

Imam an-Nawawi menukil perkataan al-Qadhi 'Iyadh:
Ulama' bersepakat tentang bisanya seseorang melihat Allah dalam mimpinya dan bersepakat tentang benarnya mimpi tersebut 
[Rujukan syarh nawawi shahih muslim 15/25]

Masih banyak pendapat ulama yang lain di mana pendapat ulama ahlu Sunnah bahwa benarnya hal tersebut.

Semoga penjelasan singkat ini di pahami dan bermanfaat buat kita semua

Fatwa Bermimpi Bertemu Nabi Muhammad saw


Setiap orang pernah mengalami mimpi dan terkadang salah satu dari mereka pernah bermimpi bertemu dengan nabi Muhammad saw.

Tidak ada yang salah, jika seseorang berjumpa dengan Rasulullah Saw melalui mimpi.
Karena di dalam hadits menerangkan.
dari riwayat Abu Hurairah Ra, Rasulullah Saw bersabda :

 مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي فِي الْيَقَظَةِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ عَلَى صُورَتِي

"Barang siapa yang bermimpi melihatku, seperti ia melihatku ketika terjaga, karena setan tidak dapat menyerupai wajahku."
[Musnad Ahmad : 3608]

Di dalam hadits yang lain juga menjelaskan.
Dari riwayat Jabir Ra, Rasulullah Saw bersabda :

مَنْ رَآنِي فِي النَّوْمِ فَقَدْ رَآنِي إِنَّهُ لَا يَنْبَغِي لِلشَّيْطَانِ أَنْ يَتَمَثَّلَ فِي صُورَتِي

"Barang siapa bermimpi melihatku dalam tidurnya, maka sesungguhnya dia benar-benar melihatku; karena setan itu tidak dapat merubah bentuk seperti bentukku."
[Shahih Muslim ; 4209]

Dari kedua dalil ini dapat di pahami, ada bermimpi fokus kepada wajah Rasulullah Saw dan ada yang fokus kepada bentuk tubuh, sehingga di tegaskan bahwa barang siapa yang bermimpi melihat Rasulullah Saw, maka dia telah melihat Rasulullah Saw dengan sebenarnya, karena setan tidak bisa menyerupai wajahnya dan bentuk tubuh-nya Rasulullah Saw.

Adapun di kalangan ulama terjadi perbedaan pendapat mengenai mimpi berjumpa dengan Rasulullah Saw, tentang benar atau salahnya, jika seseorang bermimpi telah berjumpa dengan Rasulullah Saw.

HARUS SAMA DALAM WAJAH DAN BENTUK TUBUHNYA.

•Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan,
“Diriwayatkan dari Ayyub, beliau menceritakan, Jika ada orang yang bercerita kepada Muhammad bin Sirrin bahwa dirinya mimpi bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Ibnu Sirrin meminta kepada orang ini untuk menceritakan ciri orang yang dia lihat dalam mimpi itu. Jika orang ini menyampaikan ciri-ciri fisik yang tidak beliau kenal, beliau mengatakan, “Kamu tidak melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” 

Ibnu Hajar menyatakan, “Sanad riwayat ini shahih.

Kemudian beliau membawakan riwayat yang lain, bahwa Kulaib (seorang tabi’in) pernah berkata kepada Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma, Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mimpi. Ibnu Abbas berkata, “Ceritakan kepadaku (orang yang kamu lihat).” Kulaib mengatakan, “Saya teringat Hasan bin Ali bin Abi Thalib, kemudian saya sampaikan, beliau mirip Hasan bin Ali.” Lalu Ibnu Abbas menegaskan, “Berarti, kamu memang melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sanadnya jayyid. (Fathul Bari, 12 : 383 – 384).

Dari pendapat ulama pertama adalah jika seseorang bermimpi berjumpa dengan Rasulullah Saw maka dia harus mencocokkannya kepada ciri nabi yang sebenarnya.
Jika dia melihat wajah maka dia harus mencocokkannya dan jika dia melihat postur tubuh maka dia harus mencocokkannya.

BERBEDA DAN TAKWIL.

•Al Hafizh Ibnu Hajar menyebutkan bahwa makna dari “Barangsiapa yang melihatku disaat tidur maka sungguh dia telah melihatku” adalah barangsiapa yang melihatku disaat mimpi maka sungguh dia telah melihatku yang sebenarnya dengan sempurna tanpa adanya keraguan dan kesangsian terhadap apa yang dilihatnya bahkan dia adalah mimpi yang sempurna. Hal ini dikuatkan oleh dua buah hadits dari Abu Qatadah dan Abu Said “maka sungguh dia telah melihat yang sebenarnya” yaitu mimpi yang benar bukan yang batil.

Al Hafizh menambahkan bahwa maksudnya adalah barangsiapa yang melihatku disaat tidur dalam bentuk yang bagaimanapun maka hendaklah orang itu bergembira dan mengetahui bahwa dia telah melihat yang sebenarnya dan mimpi itu berasal dari Allah swt dan bukanlah mimpi yang batil karena sesungguhnya setan tidaklah bisa menyerupaiku
(Fathul Bari juz XII hal 453)

•Al Qodhi mengatakan bahwa ada kemungkinan sabda Rasulullah saw “sungguh dia telah melihatku” atau “sungguh dia telah melihat yang sebenarnya karena setan tidaklah bisa menyerupai rupaku” maksudnya adalah jika orang itu melihatnya saw dengan sifatnya yang telah dikenal selama hidupnya saw. Akan tetapi jika orang itu melihat dalam bentuk yang sebaliknya maka mimpinya itu adalah ta’wil (yang masih perlu diteliti kebenarannya) bukan mimpi hakekat (sebenarnya)
(Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi juz XV hal 36 – 37)

Dari pendapat ulama yang ke dua adalah jika orang berjumpa dengan Rasulullah Saw dalam bentuk berbeda maka tetap dia telah melihat Rasulullah Saw dan perlu di takwilkan.

Kemudian ada keterangan dari Abdul Aziz Ahmad bin Abdul Aziz, dalam bukunya yang berjudul "Ra'aytun Nabiyya Shallallahu 'Alaihi Wasallam: Mi'atu Qishshatin min Ru'an Nabiy" (Aku bermimpi bertemu Rasulullah: Ratusan kisah orang-orang yang memimpikan Nabi). Buku tersebut berkisah bahwa mimpi bertemu Rasulullah bukanlah hal biasa.
Adapun ciri-ciri mimpi bertemu Rasulullah SAW bermacam-macam.

Pertama, seseorang dalam mimpinya akan menjumpai sosok yang berkata, "Aku adalah Rasulullah, atau Aku adalah Muhammad bin Abdullah, atau Aku adalah nabimu,"

Kedua, seseorang yang mimpi itu akan melihat sosok yang agung dan diagungkan. Dia meyakini orang yang ditemui dalam mimpi itu bukan orang sembarangan. Orang itu diyakini sebagai Rasulullah meski tidak ada yang memberitahu hal tersebut.

Ketiga, seseorang yang mimpi akan melihat seseorang yang dihormati. Kemudian, ada orang yang memberitahukan bahwa orang tersebut adalah Rasulullah SAW.

Dari pendapat ulama yang ke dua, artinya jika seseorang bermimpi dan tidak bisa melihat wajah Rasulullah Saw, di karenakan terhalangi pandangannya oleh cahaya atau di karenakan menundukkan pandangannya sehingga dia tidak bisa melihat wajahnya Rasulullah Saw, namun ada perasaan yang kuat atau ada yang memberitahukan kepadanya bahwa orang yang dia lihat adalah Rasulullah Saw. 
Maka dia telah melihat Rasulullah Saw di dalam mimpi dengan sebenarnya

PERINTAH.

Pendapat yang terakhir untuk mengetahui benar atau salahnya berjumpa dengan Rasulullah Saw adalah dari Imam Az-Zarkasyi dalam Ushul Fiqihnya; Al-Bahrul Muhith menjelaskan masalah ini: dari Tagiyidin lbnu Daqiqil led.

"apabila Rasulullah saw, memerintahkan suatu perintah yang bertentangan dengan perintah beliau dalam keadaan terjaga (di alam nyata)seperti perintah untuk meninggalkan yang wajib atau yang
sunnat, maka tidak boleh di amalkan. 
Dan apabila beliau memerintahkan suatu perintah yang tidak bertentangan dengan perintah beliau di waktu terjaga maka disunnahkan untuk mengamalkannya.

Maka, pendapat yang terakhir mengambil kesimpulan yang bijak dalam memandang dari beberapa pendapat ulama dalam meneliti benar atau salahnya berjumpa dengan Rasulullah Saw yaitu melihat perintahnya.

Jika perintahnya bertentangan dengan syariat Islam maka dia adalah setan.

Semoga penjelasan singkat ini di pahami dan bermanfaat buat kita semua.

Selasa, 05 Januari 2021

Derajat Dan Fungsi Mimpi Seorang Muslim

Derajat Dan Fungsi Mimpi Seorang Muslim.

Di dalam islam mimpi baik dan benarnya seorang muslim memiliki derajat dan fungsinya, yang bisa bermanfaat dalam keimanan dan kehidupan nyata.

Derajatnya mimpi seorang muslim sudah di terangkan di dalam hadits.

riwayat dari 'Ubadah bin Ash Shamit dari Nabi Shallallahu'alaihiwasallam beliau bersabda:

رُؤْيَا الْمُسْلِمِ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنْ النُّبُوَّةِ

"Mimpi seorang muslim adalah satu dari empat puluh enam bagian kenabian."
[Musnad_Ahmad : 21639]

Derajat 1 bagian dari 46 bagian kenabian adalah jenis mimpi yang baik.

Sebagaimana riwayat dari Abu Sa'id Al Khudzri, Rasulullah Saw bersabda :

الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنْ النُّبُوَّةِ

Mimpi yang baik adalah bagian dari empat puluh enam kenabian."
[ Shahih_Bukhari : 6474 ]

Mimpi baik datangnya dari allah swt.

Sebagaimana riwayat dari Abu Qatadah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ مِنْ اللَّهِ وَالْحُلْمُ مِنْ الشَّيْطَانِ فَإِذَا حَلَمَ فَلْيَتَعَوَّذْ مِنْهُ وَلْيَبْصُقْ عَنْ شِمَالِهِ فَإِنَّهَا لَا تَضُرُّهُ

Mimpi yang baik adalah berasal dari Allah dan mimpi buruk berasal dari setan, maka jika salah seorang diantara kalian bermimpi buruk, hendaklah meminta perlindungan kepada Allah karenanya dan meludah kesamping kirinya, sehingga mimpi buruknya tidak membahayakannya,
[Shahih_Bukhari : 6471]

Artinya seorang muslim dapat menerima mimpi dari allah swt yang sudah pasti mimpi yang Haq.

Maka dari itu pada saat imam Malik ditanya: "Bolehkah setiap orang menakwil mimpi ?" 
Beliau menjawab: "Apakah ia hendak bermain-main dengan kenabian.? Karena mimpi itu bagian dari kenabian, maka jangan bermain-main dengannya." 
(Fathul baari 12/363, Al-Asqalani :510)

Artinya setiap muslim perlu memperhatikan isi pesan di dalam mimpinya dengan serius dan benar.

Adapun fungsi mimpi seorang muslim adalah

1. KABAR BERITA GEMBIRA DI DALAM KEHIDUPAN DUNIA.

Allah SWT berfirman :

لَهُمُ الْبُشْرٰى فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِۗ لَا تَبْدِيْلَ لِكَلِمٰتِ اللّٰهِۗ ذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُۗ

Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.
[Yunus 10 : 64]

Memahami ayat ini bisa di pahami dengan tafsiran dari nabi muhammad saw yang terdapat dalam hadits.

Riwayat dari Abu Darda' dia berkata.

أَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ مَا تَقُولُ فِي قَوْلِ اللَّهِ { لَهُمْ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ } قَالَ لَقَدْ سَأَلْتَ عَنْ شَيْءٍ مَا سَمِعْتُ أَحَدًا سَأَلَ عَنْهُ بَعْدَ رَجُلٍ سَأَلَ عَنْهُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بُشْرَاهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ يَرَاهَا الْمُسْلِمُ أَوْ تُرَى لَهُ وَبُشْرَاهُمْ فِي الْآخِرَةِ الْجَنَّةُ

"Seorang laki-laki datang kepadanya dan berkata, "Apa pendatamu dengan firman Allah: '(Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan Akhirat) ' Abu Darda' berkata, "Sungguh kamu telah menanyakan sesuatu yang belum pernah aku mendengar seorang pun bertanya seperti itu, setelah laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang hal itu, beliau bersabda: "Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan dunia, yaitu mimpi benarnya seorang muslim atau yang dimimpikan oleh seorang Muslim, sedangkan kabar gembira dikehidupan akhirat adalah dengan surga
[Musnad Ahmad : 26250]

2. BERFUNGSI SEBAGAI PELANTARA ALLAH SWT UNTUK MEMBERIKAN PERINTAH.

3. BERFUNGSI MEMBERIKAN SEBUAH KETETAPAN DALIL DALAM SYARIAT ISLAM.

Contoh dari ke 3 fungsi tersebut dapat di lihat dalam hadits.

Riwayat dari Muhammad bin Abdullah bin Zaid.

عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدٍ قَالَ
لَمَّا أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالنَّاقُوسِ يُعْمَلُ لِيُضْرَبَ بِهِ لِلنَّاسِ لِجَمْعِ الصَّلَاةِ طَافَ بِي وَأَنَا نَائِمٌ رَجُلٌ يَحْمِلُ نَاقُوسًا فِي يَدِهِ فَقُلْتُ يَا عَبْدَ اللَّهِ أَتَبِيعُ النَّاقُوسَ قَالَ وَمَا تَصْنَعُ بِهِ فَقُلْتُ نَدْعُو بِهِ إِلَى الصَّلَاةِ قَالَ أَفَلَا أَدُلُّكَ عَلَى مَا هُوَ خَيْرٌ مِنْ ذَلِكَ فَقُلْتُ لَهُ بَلَى قَالَ فَقَالَ تَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ ثُمَّ اسْتَأْخَرَ عَنِّي غَيْرَ بَعِيدٍ ثُمَّ قَالَ وَتَقُولُ إِذَا أَقَمْتَ الصَّلَاةَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ قَدْ قَامَتْ الصَّلَاةُ قَدْ قَامَتْ الصَّلَاةُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَلَمَّا أَصْبَحْتُ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرْتُهُ بِمَا رَأَيْتُ فَقَالَ إِنَّهَا لَرُؤْيَا حَقٌّ إِنْ شَاءَ اللَّهُ فَقُمْ مَعَ بِلَالٍ فَأَلْقِ عَلَيْهِ مَا رَأَيْتَ فَلْيُؤَذِّنْ بِهِ فَإِنَّهُ أَنْدَى صَوْتًا مِنْكَ فَقُمْتُ مَعَ بِلَالٍ فَجَعَلْتُ أُلْقِيهِ عَلَيْهِ وَيُؤَذِّنُ بِهِ قَالَ فَسَمِعَ ذَلِكَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ وَهُوَ فِي بَيْتِهِ فَخَرَجَ يَجُرُّ رِدَاءَهُ وَيَقُولُ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَقَدْ رَأَيْتُ مِثْلَ مَا رَأَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Abdullah bin Zaid dia berkata
Sewaktu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam hendak memerintahkan supaya memakai lonceng yang dipukul untuk mengumpulkan orang-orang yang mengerjakan shalat, ada seorang laki-laki berkeliling bertemu denganku, sedang saya dalam keadaan tidur. Ia membawa lonceng di tangannya, maka saya berkata; Wahai hamba Allah, apakah kamu mau menjual lonceng ini? Dia bertanya; Apa yang akan kamu lakukan dengannya? Saya menjawab; Saya akan pakai untuk memanggil orang-orang mengerjakan shalat. Kata orang itu; Maukah saya tunjukan kepadamu yang lebih baik dari itu? Saya katakan kepadanya; Tentu. Orang itu berkata; Engkau ucapkan; "Allaahu Akbar Allaahu Akbar, Allaahu Akbar Allaahu Akbar (Allah Maha Besar Allah Maha Besar, Allah Maha Besar Allah Maha Besar), Asyhaduan laa ilaaha Illallah, Asyhaduan laa ilaaha Illallah (Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah), Ayshadu anna Muhammadar Rasuulallah, Ayshadu anna Muhammadar Rasuulallah (Aku bersaksi bahwasannya Muhammad adalah utusan Allah, Aku bersaksi bahwasannya Muhammad adalah utusan Allah), Hayya 'alash shalaah, Hayya 'alash shalaah (Marlilah kita shalat, Marlilah kita shalat). Hayya 'alal falah, Hayya 'alal falah (Marilah meraih kemenangan, marilah meraih kemenangan). Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar). Laailaaha illallah (Tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah). Abdullah berkata; Kemudian orang itu mundur tidak jauh dariku, lalu berkata; Apabila kamu membaca iqamah shalat, ucapkanlah; Allahu Akbar Allahu Akbar, (Allah Maha Besar Allah Maha Besar). Asyhaduan laa ilaaha Illallah, (Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah). Ayshadu anna Muhammadar Rasuulallah (Aku bersaksi bahwasannya Muhammad adalah utusan Allah), Hayya 'alash shalaah (Marlilah kita shalat). Hayya 'alal falah (Marilah meraiah kemenangan). Qad qaamatish shalat Qad qaamatish shalat (Sungguh shalat telah mulai didirikan Sungguh shalat telah mulai didirikan). Allahu Akbar Allahu Akbar (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar). Laailaaha illallah (Tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah). Maka keesokan harinya, saya pergi menemui Rasulallah shallallahu 'alaihi wasallam dan memberitahukan kejadian mimpiku itu, maka beliau bersabda: "Sesungguhnya mimpimu itu adalah mimpi yang benar Insya Allah. Karena itu berdirilah bersama Bilal dan ajarkan kepadanya mimpimu itu, dan hendaklah dia yang adzan, karena suaranya lebih lantang dari suaramu." Maka saya pun berdiri bersama Bilal, lalu saya ajarkan kepadanya bacaan-bacaan itu, sementara dia menyerukan adzan itu. Dia berkata; Kemudian Umar bin Al-Khaththab mendengar seruan adzan itu ketika dia sedang berada di rumahnya, lalu dia keluar sambil menarik pakaiannya dan berkata; Demi Dzat yang mengutusmu dengan al-Haq, wahai Rasulullah, sungguh saya telah bermimpi seperti mimpi Abdullah itu. Maka Rasulullah bersabda: "Maka segala puji hanya bagi Allah.
[Sunan Abu Daud : 421]

Dari keterangan dalil dapat di lihat fungsi mimpi seorang muslim.

•Kabar berita gembira karena mereka mendapatkan solusi untuk mengumpulkan orang shalat dan berbeda dengan cara orang kafir.

•Mendapatkan perintah untuk azan dan iqomah.

•Menjadi dalil dalam syariat islam.
Bisa di lihat dengan pernyataan dan ketetapa dari rasulullah saw.
"Sesungguhnya mimpimu itu adalah mimpi yang benar Insya Allah.'

4. BERFUNGSI MEMBERITAKAN TAKDIR MASA DEPAN.

Ada dua jenis dalam memberitakan takdir masa depan.
1. Sifatnya hanya bisa di yakini akan terjadi tanpa ada solusi.
2. Sifatnya bisa di yakini dan ada solusi untuk selamat dari takdir buruk yang akan terjadi.

Adapun contohnya.

1. Tidak ada solusi.

Mimpi 2 pelayan
Allah SWT berfirman :

وَدَخَلَ مَعَهُ السِّجْنَ فَتَيٰنِۗ قَالَ اَحَدُهُمَآ اِنِّيْٓ اَرٰىنِيْٓ اَعْصِرُ خَمْرًاۚ وَقَالَ الْاٰخَرُ اِنِّيْٓ اَرٰىنِيْٓ اَحْمِلُ فَوْقَ رَأْسِيْ خُبْزًا تَأْكُلُ الطَّيْرُ مِنْهُۗ نَبِّئْنَا بِتَأْوِيْلِهٖۚ اِنَّا نَرٰىكَ مِنَ الْمُحْسِنِيْنَ (٣٦)

Dan bersama dengan dia masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda. Berkatalah salah seorang di antara keduanya, "Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku memeras anggur." Dan yang lainnya berkata, "Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, sebagiannya dimakan burung." Berikanlah kepada kami ta'birnya, sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang pandai (mena'birkan mimpi).
[Yusuf 12 : 36]

Kemudian mimpi ini di takwilkan oleh nabi Yusuf as, sebagaimana Allah SWT berfirman.

يٰصَاحِبَيِ السِّجْنِ اَمَّآ اَحَدُكُمَا فَيَسْقِيْ رَبَّهٗ خَمْرًاۗ وَاَمَّا الْاٰخَرُ فَيُصْلَبُ فَتَأْكُلُ الطَّيْرُ مِنْ رَّأْسِهٖۗ قُضِيَ الْاَمْرُ الَّذِيْ فِيْهِ تَسْتَفْتِيٰنِۗ (٤١)

Hai kedua penghuni penjara, "Adapun salah seorang di antara kamu berdua, akan memberi minuman tuannya dengan khamar, adapun yang seorang lagi maka ia akan disalib, lalu burung memakan sebagian dari kepalanya. Telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakannya (kepadaku)."
Q.S Yusuf [12] : 41

Mimpi ini sifatnya hanya bisa di yakini akan terjadi dan tidak ada solusi.

2. Ada solusi.

•Mimpi Raja
Allah SWT berfirman :

وَقَالَ الْمَلِكُ اِنِّيْٓ اَرٰى سَبْعَ بَقَرٰتٍ سِمَانٍ يَّأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَّسَبْعَ سُنْۢبُلٰتٍ خُضْرٍ وَّاُخَرَ يٰبِسٰتٍۗ يٰٓاَيُّهَا الْمَلَاُ اَفْتُوْنِيْ فِيْ رُؤْيَايَ اِنْ كُنْتُمْ لِلرُّءْيَا تَعْبُرُوْنَ (٤٣)

Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya), "Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering. Hai orang-orang yang terkemuka, terangkanlah kepadaku tentang ta'bir mimpiku itu jika kamu dapat mena'birkan mimpi."
[Yusuf 12 : 43]

Kemudian mimpi ini di takwilkan oleh nabi Yusuf as, sebagaimana Allah SWT berfirman :

يُوْسُفُ اَيُّهَا الصِّدِّيْقُ اَفْتِنَا فِيْ سَبْعِ بَقَرٰتٍ سِمَانٍ يَّأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَّسَبْعِ سُنْۢبُلٰتٍ خُضْرٍ وَّاُخَرَ يٰبِسٰتٍۙ لَّعَلِّيْٓ اَرْجِعُ اِلَى النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَعْلَمُوْنَ (٤٦) قَالَ تَزْرَعُوْنَ سَبْعَ سِنِيْنَ دَاَبًاۚ فَمَا حَصَدْتُّمْ فَذَرُوْهُ فِيْ سُنْۢبُلِهٖٓ اِلَّا قَلِيْلًا مِّمَّا تَأْكُلُوْنَ (٤٧) ثُمَّ يَأْتِيْ مِنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ سَبْعٌ شِدَادٌ يَّأْكُلْنَ مَا قَدَّمْتُمْ لَهُنَّ اِلَّا قَلِيْلًا مِّمَّا تُحْصِنُوْنَ (٤٨) ثُمَّ يَأْتِيْ مِنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ عَامٌ فِيْهِ يُغَاثُ النَّاسُ وَفِيْهِ يَعْصِرُوْنَ (٤٩)

Yusuf, wahai orang yang sangat dipercaya! Terangkanlah kepada kami (takwil mimpi) tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk yang dimakan oleh tujuh (ekor sapi betina) yang kurus, tujuh tangkai (gandum) yang hijau dan (tujuh tangkai) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahui." Dia (Yusuf) berkata, "Agar kamu bercocok tanam tujuh tahun (berturut-turut) sebagaimana biasa; kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di tangkainya kecuali sedikit untuk kamu makan.
Kemudian setelah itu akan datang tujuh (tahun) yang sangat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari apa (bibit gandum) yang kamu simpan.
Setelah itu akan datang tahun, di mana manusia diberi hujan (dengan cukup) dan pada masa itu mereka memeras (anggur)."
(Yusuf : 46-49)

Mimpi ini memberitakan takdir masa depan dan ada solusi untuk selamat dari takdir buruk masa depan, karena pada zaman itu mereka memanfaatkan informasi dari mimpi sehingga mereka bisa selamat dari masa takdir buruk yang terjadi.

5. BERFUNGSI MENGUNGKAP SUATU RAHASIA.

Riwayat dari anas ra, dia berkata

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُعْجِبُهُ الرُّؤْيَا الْحَسَنَةُ فَرُبَّمَا قَالَ هَلْ رَأَى أَحَدٌ مِنْكُمْ رُؤْيَا فَإِذَا رَأَى الرَّجُلُ رُؤْيَا سَأَلَ عَنْهُ فَإِنْ كَانَ لَيْسَ بِهِ بَأْسٌ كَانَ أَعْجَبَ لِرُؤْيَاهُ إِلَيْهِ قَالَ فَجَاءَتْ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ رَأَيْتُ كَأَنِّي دَخَلْتُ الْجَنَّةَ فَسَمِعْتُ بِهَا وَجْبَةً ارْتَجَّتْ لَهَا الْجَنَّةُ فَنَظَرْتُ فَإِذَا قَدْ جِيءَ بِفُلَانِ بْنِ فُلَانٍ وَفُلَانِ بْنِ فُلَانٍ حَتَّى عَدَّتْ اثْنَيْ عَشَرَ رَجُلًا وَقَدْ بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَرِيَّةً قَبْلَ ذَلِكَ قَالَتْ فَجِيءَ بِهِمْ عَلَيْهِمْ ثِيَابٌ طُلْسٌ تَشْخُبُ أَوْدَاجُهُمْ قَالَ فَقِيلَ اذْهَبُوا بِهِمْ إِلَى نَهْرِ الْبَيْدَخِ أَوْ قَالَ إِلَى نَهَرِ الْبَيْدَجِ قَالَ فَغُمِسُوا فِيهِ فَخَرَجُوا مِنْهُ وُجُوهُهُمْ كَالْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ قَالَ ثُمَّ أَتَوْا بِكَرَاسِيَّ مِنْ ذَهَبٍ فَقَعَدُوا عَلَيْهَا وَأُتِيَ بِصَحْفَةٍ أَوْ كَلِمَةٍ نَحْوِهَا فِيهَا بُسْرَةٌ فَأَكَلُوا مِنْهَا فَمَا يُقَلِّبُونَهَا لِشِقٍّ إِلَّا أَكَلُوا مِنْ فَاكِهَةٍ مَا أَرَادُوا وَأَكَلْتُ مَعَهُمْ قَالَ فَجَاءَ الْبَشِيرُ مِنْ تِلْكَ السَّرِيَّةِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَانَ مِنْ أَمْرِنَا كَذَا وَكَذَا وَأُصِيبَ فُلَانٌ وَفُلَانٌ حَتَّى عَدَّ الِاثْنَيْ عَشَرَ الَّذِينَ عَدَّتْهُمْ الْمَرْأَةُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيَّ بِالْمَرْأَةِ فَجَاءَتْ قَالَ قُصِّي عَلَى هَذَا رُؤْيَاكِ فَقَصَّتْ قَالَ هُوَ كَمَا قَالَتْ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

 "Rasulullah saw sangat senang (taajub) dengan mimpi yang baik, dan sering-seringi beliau sabdakan, "Apakah salah seorang dari kalian bermimpi?" maka apabila ada seorang laki-laki yang bermimpi, beliau bertanya tentangnya, jika mimpi tersebut tidak negatif, beliau merasa senang terhadap mimpi yang diimpikannya. Anas berkata, "Lalu seorang wanita datang dan berkata, "Wahai Rasulullah, aku bermimpi seakan aku masuk ke dalam surga. Dan kudengar di sana suara benda jatuh yang menjadikan surga bergetar. Lantas kuteliti, ternyata telah dihadirkan si fulan, si fulan dan si fulan, " hingga ia sebutkan dua belas orang. Dan sebelum itu Rasulullah saw telah mengirim sebuah ekspedisi militer. Kedua belas orang itu didatangkan dengan mengenakan pakaian kotor dan urat leher mereka mengalir." Anas berkata, "Lantas ada suara bergema; 'bawalah mereka ke sungai baidakh -atau ia mengatakan sungai baidaj-'. Di sana mereka ditenggelamkan (dicelup, dimandikan). Setelah itu mereka keluar dengan wajah yang telah berubah bagaikan bulan di malam purnama." Anas berkata, "Mereka lalu datang dengan membawa kursi-kursi emas seraya menjadikannya sebagai tempat duduk. Selanjutnya disajikan kepada mereka piring -atau kalimat yang semakna- yang berisi kurma, dan mereka pun memakannya. Tidaklah ia membolak-balikkan piring tersebut kecuali ia dapat memakan buah yang ia kehendaki. Maka aku pun makan bersama mereka." Anas berkata, "Lalu datanglah pembawa berita dari ekspedisi Rasulullah dan berkata, "Wahai Rasulullah, masalah kami begini dan begini, lalu fulan dan fulan terbunuh." Hingga ia menyebutkan dua belas orang sebagaimana yang telah dihitung oleh wanita tersebut. Rasulullah saw kemudian bersabda, "Panggilkan wanita itu kemari!" wanita itu pun dihadapkan. Beliau bersabda, "Ceritakanlah mimpimu kepada orang ini." wanita itu lalu menceritakan mimpinya. Anas berkata, "Kejadian itu sebagaimana yang dikatakan oleh wanita itu kepada Rasulullah saw." 
(Musnad Ahmad : 11937)

6. BERFUNGSI MEMBERIKAN MOTIVASI

Tidak semua mimpi dari allah swt harus menjadi kenyataan sesuai cerita mimpi atau takwil, dengan syarat mimpi itu baik dan benar, di mana mimpi itu bisa memberikan dampak positif dalam keimanan dan kehidupan nyata.

Sebagaimana riwayat dari Abu Sa'id Al Khudri bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu wa'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ الرُّؤْيَا يُحِبُّهَا فَإِنَّمَا هِيَ مِنْ اللَّهِ فَلْيَحْمَدْ اللَّهَ عَلَيْهَا وَلْيُحَدِّثْ بِمَا رَأَى وَإِذَا رَأَى غَيْرَ ذَلِكَ مِمَّا يَكْرَهُهُ فَإِنَّمَا هِيَ مِنْ الشَّيْطَانِ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّهَا وَلَا يَذْكُرْهَا لِأَحَدٍ فَإِنَّهَا لَا تَضُرُّهُ

"Apabila salah seorang diantara kalian bermimpi yang menyenangkannya maka itu berasal dari Allah, maka hendaknya ia memuji Allah karenanya dan menceritakan apa yang ia lihat, dan apabila ia bermimpi tidak seperti itu diantara yang ia benci maka itu berasal dari syetan, maka hendaknya ia berlindung kepada Allah dari keburukannya, dan tidak menceritakannya kepada seseorang, maka mimpi tersebut tidak akan membahayakannya."
[Sunan_Tirmidzi : 3375]

Peristiwa ini pernah di alami oleh rasulullah saw.

Allah SWT berfirman :

اِذْ يُرِيْكَهُمُ اللّٰهُ فِيْ مَنَامِكَ قَلِيْلًاۗ وَلَوْ اَرٰىكَهُمْ كَثِيْرًا لَّفَشِلْتُمْ وَلَتَنَازَعْتُمْ فِى الْاَمْرِ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ سَلَّمَۗ اِنَّهٗ عَلِيْمٌۢ بِذَاتِ الصُّدُوْرِ (٤٣)

(yaitu) ketika Allah menampakkan mereka kepadamu di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit. Dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka kepadamu (berjumlah) banyak tentu saja kamu menjadi gentar dan tentu saja kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu, akan tetapi Allah telah menyelamatkan kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.
[Al-Anfal 8 : 43]

Pada ayat ini Allah memperlihatkan hal yang terbalik dari kenyataannya, karena pada kenyataannya musuh memiliki jumlah lebih banyak dari pada jumlah umat islam, padahal di dalam mimpi nabi, musuh hanya berjumlah sedikit di banding jumlah umat islam, Namun dengan mimpi nabi ini dapat memberikan kesenangan di hati Umat Islam sehingga dapat menghilangkan kegentaran tentara Muslim yang berjuang bersama dengan Rasulullah saw. 
Seperti yang diketahui bahwa di dalam perang, selain peralatan dan strategi perang, hal yang tidak boleh di lupakan adalah mental dan kepercayaan diri seorang prajurit. Peralatan yang canggih dan strategi yang jitu tidak ada artinya jika seorang prajurit hilang kepercayaan dirinya. 

Hal ini juga sudah di tafsirkan oleh At-Thabari yang menukil perkataan ibn Ishaq bahwa mimpi nabi saw itu menjadi keberanian mereka menghadapi musuh dan menghilangkan rasa takut karena kelemahan mereka 
(At-Thabari : 2000 :13 :569)

7. BERFUNGSI DI AKHIR ZAMAN.

Alasan mimpi bisa berfungsi di akhir zaman karena tidak ada lagi kabar kenabian kecuali mimpi.

riwayat dari Abdullah bin 'Abbas dia berkata,


كَشَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السِّتْرَ وَرَأْسُهُ مَعْصُوبٌ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ فَقَالَ اللَّهُمَّ قَدْ بَلَّغْتُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ إِنَّهُ لَمْ يَبْقَ مِنْ مُبَشِّرَاتِ النُّبُوَّةِ إِلَّا الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ يَرَاهَا الْعَبْدُ 

Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam suatu saat menyingkap tirai, dan kepalanya dililit (diperban) dengan kain karena sakit -yang akhirnya menyebabkan beliau meninggal dunia- lalu beliau Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: 'Ya Allah, telah kusampaikan - tiga kali -, sesungguhnya tidak tersisa lagi kabar kenabian kecuali mimpi yang benar, yakni mimpi yang dilihat atau diperlihatkan kepada seorang hamba '. 
[Sunan_Nasai : 1108]

Artinya setelah tidak ada lagi nabi/rasul, allah swt memberikan petunjuk langsung kepada makhluknya melalui mimpi, sehingga mimpi akan berfungsi hingga akhir zaman.

sebagaimana riwayat dari abu Hurairah Radhiyallahu, Rasulullah Saw bersabda :

إِذَا اقْتَرَبَ الزَّمَانُ لَمْ تَكَدْ رُؤْيَا الْمُسْلِمِ تَكْذِبُ وَأَصْدَقُكُمْ رُؤْيَا أَصْدَقُكُمْ حَدِيثًا وَرُؤْيَا الْمُسْلِمِ جُزْءٌ مِنْ خَمْسٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنْ النُّبُوَّةِ

Apabila hari kiamat telah dekat, maka jarang sekali mimpi seorang Muslim yang tidak benar. Dan mimpi yang paling paling benar adalah mimpi yang selalu bicara benar. Mimpi seorang muslim adalah sebagian dari empat puluh lima macam Nubuwwah
[Muslim : 4200]

Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan, bahwa pada akhir zaman mimpi seorang mukmin nyaris tidak mengandung kebohongan artinya mimpi itu memiliki sifat dan arti yang jelas. Sehingga, tidak memerlukan penakwilan yang diliputi kebohongan. Bahkan, mimpi itu benar-benar menjadi kenyatan. Berbeda dengan mimpi orang lain yang membutuhkan penakwilan. Sehingga mimpi itu harus ditafsirkan oleh seorang penakwil mimpi. Namun, hasilnya tidak sesuai dengan realitas yang ada. Dengan kata lain, mimpi itu berikut penakwilnya dusta.

Al hafiz Ibnu hajar menjelaskan.
Pada akhir zaman, kebenaran mimpi seorang Mukmin ini mengandung hikmah, karena pada saat itu setiap orang beriman akan terasing di tengah-tengah masyarakatnya. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yang mengatakan, "Islam muncul dari keterasingan dan nanti akan kembali kepada keterasingan." Pada saat itu, pendamping dan penolong seorang mukmin akan semakin berkurang. Namun, Allah SWT akan memuliakan dengan mimpi baik yang dapat memberinya kabar gembira dan meneguhkannya di jalan kebenaran.
[fathul bari jilid 19 hal 451]

Semoga penjelasan singkat ini di pahami dan bermanfaat buat kita semua.

Senin, 04 Januari 2021

Derajat Dan Fungsi Mimpi Para Nabi/Rasul


Pada pembahasan yang lalu sudah kita pahami bahwa mimpi ada 3 jenis,di mana ada yang Haq dan ada yang bathil.

Namun mimpi para nabi adalah Wahyu karena terjaga dari mimpi yang bathil.

Sebagaimana riwayat dari Ummul mukminin Aisyah Ra.

أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ

Permulaaan wahyu yang datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah dengan mimpi yang benar dalam tidur.
[ Shahih Bukhari : 03 ]

Mimpinya para nabi memiliki peran fungsinya yang berdampak dalam keimanan dan kehidupan nyata.

FUNGSI MIMPI PARA NABI/RASUL

1. Memberikan kabar berita gembira di dalam kehidupan di dunia.

Allah SWT berfirman :

لَهُمُ الْبُشْرٰى فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِۗ 

Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. 
(Yunus : 64)

Ayat Yunus 64, telah di tafsirkan oleh Rasulullah Saw,  dari riwayat abu darda, Rasulullah Saw bersabda :

رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بُشْرَاهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ يَرَاهَا الْمُسْلِمُ أَوْ تُرَى لَهُ وَبُشْرَاهُمْ فِي الْآخِرَةِ الْجَنَّةُ

"Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan dunia, yaitu mimpi benarnya seorang muslim atau yang dimimpikan oleh seorang Muslim, sedangkan kabar gembira di kehidupan akhirat adalah dengan surga
[Musnad Ahmad : 26250]

Contohnya :

A. Mimpi nabi Yusuf as.

mimpi berfungsi memberikan kabar berita gembira di dalam kehidupan dunia mengenai takdir masa depan.

Allah SWT berfirman :

اِذْ قَالَ يُوْسُفُ لِاَبِيْهِ يٰٓاَبَتِ اِنِّيْ رَاَيْتُ اَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَّالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَاَيْتُهُمْ لِيْ سٰجِدِيْنَ (٤) قَالَ يٰبُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُءْيَاكَ عَلٰٓى اِخْوَتِكَ فَيَكِيْدُوْا لَكَ كَيْدًاۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ لِلْاِنْسَانِ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ (٥)

(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku". Ayahnya berkata, "Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan)mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia."
[Yusuf 12 : 4]

Cerita mimpi ini menjadi kenyataan, sebagaimana Allah SWT berfirman.

وَرَفَعَ اَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوْا لَهٗ سُجَّدًاۚ وَقَالَ يٰٓاَبَتِ هٰذَا تَأْوِيْلُ رُءْيَايَ مِنْ قَبْلُۙ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّيْ حَقًّاۗ وَقَدْ اَحْسَنَ بِيْٓ اِذْ اَخْرَجَنِيْ مِنَ السِّجْنِ وَجَاۤءَ بِكُمْ مِّنَ الْبَدْوِ مِنْۢ بَعْدِ اَنْ نَّزَغَ الشَّيْطٰنُ بَيْنِيْ وَبَيْنَ اِخْوَتِيْۗ اِنَّ رَبِّيْ لَطِيْفٌ لِّمَا يَشَاۤءُۗ اِنَّهٗ هُوَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ (١٠٠)

Dan ia menaikkan kedua orang tuanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf, "Wahai ayahku inilah ta'bir mimpiku yang dahulu itu, sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antara aku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
[Yusuf 12 : 100]

B. Mimpi nabi Muhammad Saw.

Allah SWT berfirman :

لَقَدْ صَدَقَ اللّٰهُ رَسُوْلَهُ الرُّءْيَا بِالْحَقِّۚ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ اٰمِنِيْنَۙ مُحَلِّقِيْنَ رُءُوْسَكُمْ وَمُقَصِّرِيْنَۙ لَا تَخَافُوْنَۗ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوْا فَجَعَلَ مِنْ دُوْنِ ذٰلِكَ فَتْحًا قَرِيْبًا (٢٧)

Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat.
[ Al-Fath 48 : 27 ]

Karena mimpi berfungsi memberikan sebuah kabar berita yang pasti terjadi maka mimpi ini berdampak kepada keimanan dan kehidupan nyata, sehingga bisa untuk bersabar dan memperteguh dalam keimanan.

2. Pelantara Allah untuk memberikan perintah kepada nabinya.

Allah SWT berfirman :

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab, "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."
[Ash-Shaffat 37 : 102]

Nabi ibrahim mendapatkan perintah allah swt melalui.

3. Memberikan motivasi.

Allah SWT berfirman :

اِذْ يُرِيْكَهُمُ اللّٰهُ فِيْ مَنَامِكَ قَلِيْلًاۗ وَلَوْ اَرٰىكَهُمْ كَثِيْرًا لَّفَشِلْتُمْ وَلَتَنَازَعْتُمْ فِى الْاَمْرِ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ سَلَّمَۗ اِنَّهٗ عَلِيْمٌۢ بِذَاتِ الصُّدُوْرِ (٤٣)

(yaitu) ketika Allah menampakkan mereka kepadamu di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit. Dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka kepadamu (berjumlah) banyak tentu saja kamu menjadi gentar dan tentu saja kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu, akan tetapi Allah telah menyelamatkan kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.
[Al-Anfal 8 : 43]

Pada ayat ini Allah memperlihatkan hal yang terbalik dari kenyataannya, karena pada kenyataannya musuh memiliki jumlah lebih banyak dari pada jumlah umat islam, padahal di dalam mimpi nabi, musuh hanya berjumlah sedikit di banding jumlah umat islam, Namun dengan mimpi nabi ini dapat memberikan kesenangan di hati Umat Islam sehingga dapat menghilangkan kegentaran tentara Muslim yang berjuang bersama dengan Rasulullah saw. 

Seperti yang diketahui bahwa di dalam perang, selain peralatan dan strategi perang, hal yang tidak boleh di lupakan adalah mental dan kepercayaan diri seorang prajurit. Peralatan yang canggih dan strategi yang jitu tidak ada artinya jika seorang prajurit hilang kepercayaan dirinya. 

Hal ini juga sudah di tafsirkan oleh At-Thabari yang menukil perkataan ibn Ishaq bahwa mimpi nabi saw itu menjadi keberanian mereka menghadapi musuh dan menghilangkan rasa takut karena kelemahan mereka 
(At-Thabari : 2000 :13 :569)

4. Menetapkan sebuah dalil.

Riwayat dari Mu'adz bin Jabal.

احْتُبِسَ عَنَّا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ غَدَاةٍ عَنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ حَتَّى كِدْنَا نَتَرَاءَى عَيْنَ الشَّمْسِ فَخَرَجَ سَرِيعًا فَثُوِّبَ بِالصَّلَاةِ فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَجَوَّزَ فِي صَلَاتِهِ فَلَمَّا سَلَّمَ دَعَا بِصَوْتِهِ فَقَالَ لَنَا عَلَى مَصَافِّكُمْ كَمَا أَنْتُمْ ثُمَّ انْفَتَلَ إِلَيْنَا ثُمَّ قَالَ أَمَا إِنِّي سَأُحَدِّثُكُمْ مَا حَبَسَنِي عَنْكُمْ الْغَدَاةَ أَنِّي قُمْتُ مِنْ اللَّيْلِ فَتَوَضَّأْتُ وَصَلَّيْتُ مَا قُدِّرَ لِي فَنَعَسْتُ فِي صَلَاتِي فَاسْتَثْقَلْتُ فَإِذَا أَنَا بِرَبِّي تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي أَحْسَنِ صُورَةٍ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ قُلْتُ لَبَّيْكَ رَبِّ قَالَ فِيمَ يَخْتَصِمُ الْمَلَأُ الْأَعْلَى قُلْتُ لَا أَدْرِي رَبِّ قَالَهَا ثَلَاثًا قَالَ فَرَأَيْتُهُ وَضَعَ كَفَّهُ بَيْنَ كَتِفَيَّ حَتَّى وَجَدْتُ بَرْدَ أَنَامِلِهِ بَيْنَ ثَدْيَيَّ فَتَجَلَّى لِي كُلُّ شَيْءٍ وَعَرَفْتُ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ قُلْتُ لَبَّيْكَ رَبِّ قَالَ فِيمَ يَخْتَصِمُ الْمَلَأُ الْأَعْلَى قُلْتُ فِي الْكَفَّارَاتِ قَالَ مَا هُنَّ قُلْتُ مَشْيُ الْأَقْدَامِ إِلَى الْجَمَاعَاتِ وَالْجُلُوسُ فِي الْمَسَاجِدِ بَعْدَ الصَّلَوَاتِ وَإِسْبَاغُ الْوُضُوءِ فِي الْمَكْرُوهَاتِ قَالَ ثُمَّ فِيمَ قُلْتُ إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَلِينُ الْكَلَامِ وَالصَّلَاةُ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ قَالَ سَلْ قُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ وَأَنْ تَغْفِرَ لِي وَتَرْحَمَنِي وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةَ قَوْمٍ فَتَوَفَّنِي غَيْرَ مَفْتُونٍ أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهَا حَقٌّ فَادْرُسُوهَا ثُمَّ تَعَلَّمُوهَا

"Pada suatu pagi, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam tertahan dari kami untuk shalat shubuh hingga hampir saja kami melihat matahari, beliau keluar dengan cepat lalu shalat diiqamati, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam shalat dan mempercepatnya, saat salam beliau memanggil dengan suara keras, beliau bersabda pada kami: "Tetaplah di shaf-shaf kalian seperti ini." Setelah itu beliau meninggalkan kami lalu bersabda "Ingat, sesungguhnya aku akan memberitahukan kepada kalian apa yang menahanku dari kalian pagi ini. Di sebagian malam aku bangun lalu wudhu dan shalat semampuku, saat shalat aku mengantuk hingga tertidur. Tiba-tiba aku berada dihadapan Rabbku Tabaraka wa Ta'ala dalam wujud yang paling indah lalu bertanya: Hai Muhammad, ' aku menjawab: Baik, Rabb. Ia bertanya: 'Tahukah kamu apa yang diperdebatkan malaikat tertinggi? ' Beliau menjawab: Rabb aku tidak tahu.' Ia mengucapkan tiga kali, aku melihatNya lalu Ia meletakkan tanganNya di atas pundakku hingga aku merasakan dinginnya ujung-ujung jariNya diantara dadaku lalu segala sesuatu terlihat jelas olehku dan aku mengetahui. Ia bertanya: 'Hai Muhammad, ' aku menjawab: Baik, Rabb. Ia bertanya: 'Tahukah kamu apa yang diperdebatkan malaikat tertinggi? ' Aku menjawab: Tentang Penebus (dosa). Ia bertanya: Apa itu? Aku menjawab: Melangkahkan kaki menuju (shalat) jamaah, duduk dimasjid setelah shalat, menyempurnakan wudhu pada saat tidak disukai, ' lalu Ia berfirman seperti yang aku ucapkan: Memberi makan, melunakkan kata-kata, shalat di malam hari saat orang-orang tidur.' Ia berfirman: Mintalah, ucapkan: ALLAHUMMA INNI AS'ALUKA FI'LAL KHAIRAAT WA TARKAL MUNKARAAT WA HUBBAL MASAAKIIN WA AN TAGHFIRALII WA TARHAMNII WA IDZA ARADTA BI IBAADIKA FITNATAN FAQBIDLNI ILAKA GHARA MAFTUNN AS'ALUK HUBBAKJA WA HUBBA MAN YUHIBBUKA WA HUBBA AMALIN YUQARRIBU ILA HUBBIKA.' (Ya Allah, sesungguhnya aku meminta-Mu berbuat kebaikan, meninggalkan kemungkaran, mencintai orang-orang miskin, ampunilah aku dan rahmatilah aku, bila Engkau menghendaki suatu fitnah pada hamba-hambaMu, wafatkan aku kepadaMu dalam keadaan tidak terkena fitnah, aku mengharap cintaMu, cintanya orang yang mencintaiMu, cinta pada amalan yang mendekatkanku pada cintaMu). Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Sesungguhnya itu benar, pelajarilah, " 
mereka mempelajarinya.
[ Sunan Tirmidzi : 3159 ]

Mimpinya nabi menetapkan sebuah dalil bahwa nabi bisa melihat allah swt melalui mimpi dan menuntun untuk meminta atau berdoa kepada allah sehingga bisa di amalkan.

Karena mimpi nabi adalah Wahyu sehingga mimpi mereka bisa menjadikan sebuah ketetapan dalil dalam syariat Islam.

Semoga penjelasan singkat ini di pahami dan bermanfaat buat kita semua.

Fatwa Ulama Tentang Mimpi Allah Swt | Syaikh Muqbil Hadi Wadi'iy

Syaikh Muqbil bin Hady Al-Wadi’iy rahimahullah tatkala ditanya dalam sejumlah pertanyaan dari Indonesia, diantaranya : “Apakah seorang mukmi...